Rabu, 17 Januari 2018

GALERY SAHABAT SEDJATI FARM 2017

SAHABAT SEDJATI FARM












Ayam Kampung Indonesia


Ayam Kampung Indonesia

Ayam kampung telah dikenal masyarakat sebagai potensi kekayaan genetik asli unggas Indonesia. Ayam ini dikenal juga dengan nama ayam lokal, ayam sayur, atau ayam buras. Jenis unggas ini memiliki habitat hidup yang sangat luas, tumbuh serta berkembang sesuai dengan kondisi, dan kebeeradaan faktor-faktor pendukung kehidupanya. Oleh karena itu, variasi genetiknya sangat tinggi. Potensinya sebagai tenak peliharaan maupun sebagai ternak industri semakin besar dan memiliki kemampuan bersaing yang belum tergeser oleh jenis unggas lainnya.

A. Potensi Ayam Kampung


Ayam kampung merupakan turunan panjang dari proses sejarah perkembangan genetik perunggasan ditanah air. Ayam kampung diidikasikan dari hasil domestikasi ayam hutan merah atau red jungle fowlss (Gallus gallus) dan ayam hutan hijau (Gallus gallus). Awalnya, ayam tersebut hidup di hutan, kemudian didomestikasi serta dikembangkan oleh masyarakat pedesaan.
Yang dimaksud dengan ayam kampung adalah ayam asli Indonesia yang telah beradaptasi, hidup, berkembang, dan berproduksi dalam jangka waktu yang lama, baik di kawasan habitat tertentu maupun di beberapa tempat. Adapun perkembangbiakannya dilakukan antarsesama tanpa ada perkawinan campuran dengan ayam ras (jenis ayam yang sengaja diintroduksi).
Banyak ahli melaporkan bahwa ayam kampung di Indonesia sangat bervariasi, baik bentuk, performa, maupun produktivitasnya. Di antara keragaman ayam tersebut, terdapat jenis ayam kampung yang telah diidentifikasi dan diberi nama walaupun jumlahnya masih sangat terbatas. Varietas ayam kampung atau ayam asli Indonesia yang sudah cukup dikenal masyarakat, antara lain ayam kedu, ayam pelung, ayam cemani, ayam brugo, manok aceh, ayam kinantan, ayam batu, ayam sumatera, ayam burik, ayam bekisar, ayam sentul, ayam nunukan, dan ayam ayunai.


Jenis-jenis ayam kampung

Dalam pemeliharaan ayam kampung, ada banyak faktor yang memudahkan, antara lain tidak harus membutuhkan lahan yang luas, penyediaan pakan mudah dan murah, serta siklus produksi lebih singkat sehingga lebih cepat dirasakan manfaat ekonominya. Namun, usaha pengembangan ayam kampung masih menghadapi kendala, antara lain sistem pemeliharaan masih tradisional, produktivitas rendah, variasi mutu genetik beragam, tingkat kematian tinggi, dan pemberian pakan belum sesuai dengan kebutuhan, baik kuantitas maupun kualitasnya. Adapun penyebab masih rendahnya produktivitas ayam kampung Indonesia, antara lain sebagai berikut:

1) Tingginya variasi genetik akibat sistem perkawinan bebas secara alami yang telah berjalan lama
2) Introduksi ayam ras yang menyebabkan terjadinya kawin silang
3) Sistem manajemen pemeliharaan yang sebagian besar masih dilakukan secara ekstensif
4) Penyesuaian kebutuhan gizi nutrisi belum spesifik
5) Sering terjangkit penyakit musiman
6) Program breeding yang sifatnya berkelanjutan masih kurang dilakukan

Berdasarkan hasil studi dan pengalaman peternak, sistem pemuliabiakan, perbaikan mutu genetik, dan pola pemeliharaan secara intensif dapat memperbaiki produktivitas ayam kampung tersebut. Saat ini pengembangan mutu genetik ayam kampung Indonesia masih kurang dilakukan dan belum dijadikan fokus, seperti pada sapi dan kambing. Kemungkinan penyebabnya adalah adanya alternatif lain, yaitu ayam ras. Padahal, jika dilihat dari potensi genetik beberapa jenis ayam kampung Indonesia, bukan tidak mungkin dapat dikembangkan dan munculnya ayam produktif, baik ayam pedaging maupun ayam petelur.
Terkait dengan program budi daya dan pengembangan genetik ayam kampung, selayaknya perlu dicontoh program ahli perunggasan negara Jepang. Para ahli di negara tersebut telah mengembangkan ayam lokal Jepang menjadi simbol keunggulan potensi lokal yang dikelola dengan baik sehingga sisi keaslian tetap dapat dipertahankan. Sementara itu, sisi produktivitasnya dapat terus ditingkatkan sesuai potensi genetiknya sehingga memiliki daya saing dan nilai ekonomis yang tinggi. Saat ini ada 17 ras ayam Jepang yang dijadikan sebagai simbol nasional yang usul-usulnya dari Cina dan Asia Selatan-Timur ribuan tahun yang lalu. Ayam lokalnya terus dikembangkan sehingga muncul berbagai varietas baru yang dipelihara sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebagai ternak pendamping, penjaga waktu, permainan aduan, produksi daging, dan produksi telur.
Perbaikan produktivitas ayam kampung asli Indonesia dilakukan karena permintaan masyarakat terhadap komoditas dagingnya semakin diminati. Hal ini terlihat dari peningkatan produksi ayam dari tahun 2001-2005 terjadi peningkatan produksi daging ayam kampung/buras sebesar 4,5%. Pada kisaran tahun 2005-2009, terjadi peningkatan yang cukup tinggi. Produksi daging unggas pada tahun 2005 sebesar 1,52 juta ton menjadi 1,49 juta ton pada tahun 2008. Kenyataann ini memberi peluang besar bagi peternak untuk meningkatkan peran bisnis ayam kampung. Prospek usaha ayam kampung tersebut terus berkembang sejak dilaksanakannya program Insensifikasi Ternak Ayam Buras (Intab)pada tahun 1985/1986. Program tersebut telah meningkatkan amino masyarakat untuk memelihara ayam kampung sehingga terjadi peningkatan populasi ayam yang sangat signifikan di Indonesia.

B. Ayam Lokal Pedaging Unggul (ALPU)


Istilah ALPU merupakan nama yang dipopulerkan untuk membedakan antara ayam kampung pedaging asli lokal, ayam ras pedaging,dan  ayam-ayam hasil crossbreeding lainnya yang menggunakan ayam kampung sebagai pejantan ataupun sebagai induk. Perbedaan mendasar ALPU dengan jenis ayam lokal atau ayam kampung lainnya terletak pada asal-usul genetik dan teknologi pemuliabiakan yang diterapkan. ALPU diturunkan melalui proses panjang dari induk dan pejantan (parent) yang telah melewati tahapan seleksi (selection program), termasuk progeny test pada setiap fase anak yang dilahirkan dan memenuhi kriteria sebagai ayam pedaging yang lebih produktif dibandingkan ayam lokal asli.
Umumnya upaya penggalian potensi genetik untuk memacu pertumbuhan dan meningkatkan produktivitas ternak, termasuk ayam kampung, dapat dilakukan melalui program seleksi genetik. Tujuannya untuk mengubah frekuennsi gen dari  suatu populasi sehingga terekspresi pada kemampuan tumbuh dan produksi yang diinginkan. Saat ini sebagian besar metode seleksi ternak yang akan digunakan sebagai bibit hanya ditetapkan berdasarkan sifat fenotipe, bukan berdasarkan sifat genotipe. Hal ini disebabkan sifat kuantitatif pada ternak hampir tidak mungkin ditetapkan secara pasti. Metode seleksi tersebut akan lebih menyulitkan jika dilakukan pada ternak lokal, seperti ayam kampung yang variasi sifat genetiknya sangat tinggi. Penyebabnya adalah sejarah asal-usulnya semakin kabur akibat perkawinan bebas antar-breed atau strain yang tidak terkontrol. Konsep dasar program seleksi untuk mendapatkan ALPU adalah melakukan seleksi terhadap induk dan pejantan ayam kampung secara berkelanjutan dengan kriteria eksterior ayam potong sehingga menghasilkan turunan dengan tingkat produksi lebih baik dan karakteristik lebih seragam.



Usaha ayam kampung yang paling digemari dan mendatangkan keuntungan cukup besar. Diantaranya usaha telur konsumsi, ayam kampung pedaging muda, serta ayam indukan/pejantan penghasil telur tetas dan DOC.


C. Keunggulan ALPU sebagai Ayam Pedaging


Jika dibandingkan dengan ayam kampung umumnya salah satu ciri ALPUadalah tingkat keseragaman produktivitasnya lebih dari 80%. Sebagai tipe ayam yang dikembangkan untuk menghasilkan daging, secara fisik terdapat perbedaan mendasar antara ALPU dan ayam kampung umumnya. Perbedaan terutama terletak pada bentuk serta postur tubuh, warna kaki, bentuk pial, kecepatan tumbuh, keseragaman produktivitas,d dan bobot tumbuh.
Ada 2 jenis ALPU komersial yang dapat dikategorikan memiliki kecepatan tumbuh dan sifat-sifat fisik sebagai ayam pedaging, yaitu ALPU tipe medium dan ALPU tipe berat. Perbedaan dari kedua jenis tipe ALPU tersebut terletak pada kecepatan tumbuh, selain capaian tingkat keseragaman produksi dari total populasi. ALPU tipe berat memiliki capaian berat badan akhir yang lebih tinggi dibandingkan ALPU tipe medium. Dari sisi penampilan terdapat perbedaan warna dominan dan karakteristik bentuk tubuh serta komponen karkas utama terutama bagian dada dan paha. Secara komersial, ALPU tipe berat akan sangat menguntungkan karena sejak umur 6 minggu berat badan komersial sebagai ayam pedaging telah tercapai. Kecepatan pertumbuhan berat badan ALPU terseleksi per minggu lebih tinggi dibandingkan ayam kampung umumnya dan terus mengingkat sampai umur komersial paling efisien, yaitu minggu ke-14.

1. Pertumbuha lebih cepat

Pola pertumbuhan ALPU sebagai ayam pedaging akan dapat dipertahankan sampai umur komersial yang diinginkan masyarakat jika disertai dengan sistem pemeliharaan dan pemberian pakan yang sesuai disertai imbangan gizi yang cukup. Berdasarkan penelitian, puncak pertumbuhan ALPU akan mulai terlihat sejak umur 6 minggu dan terus meningkat sampai umur 14 minggu. Setelah 14 minggu, pertambahan rata-rata berat badan semakin berkurang walaupun berat badan akhir masiih meningkat. Oleh karena itu, pemeliharaan ALPU akan menghasilkan keuntungan yang tinggi sejak umur 6-14 minggu.

2. Keseragaman produksi

Tingkat keseragaman produksi merupakan parameter yang digunakan untuk mengamati keseragaman fenotipe ALPU dari sisi poduksi dan komersial. Sebagai ayam kampung pedaging komersial, tingkat keseragaman produksi dari total populasi akan menjadi sangat penting karena menentukan nilai penerimaan usaha. 
   Karakteristik ayam kampung umumnya memiliki variasi keseragaman produksi yang rendah. Kondisi ini menandakan bahwa ayam kampung tanpa seleksi belum dapat digolongkan sebagai ayam komersial karena variasi capaian produksi masih sangat tinggi dan tanpa standardisasi yang terukur. Adapun perbandingan tingkat keseragaman ALPU jantan dengan ayam kampung jantan tanpa seleksi adalah sebagai berikut:
a) Keseragaman produksi ayam kampung jantan tanpa seleksi berkisar dibawah 50% dari populasi.
b) Keseragaman produksi ayam kampung jantan dengan progeny test dapat tercapai antara 70-85% dari populasi.
c) Keseragaman produksi ayam kampung jantan dengan seleksi eksterior dan penyesuaian nutrisi mencapai 83-86% dari total populasi.

3. Keunggulan sifat komersial

Sifat komersial ALPU adalah sifat-sifat terukur yang menjadi tuntunan konsumen sehingga meningkatkan nilai ekonomis dan daya tarik komersial dibandingkan ayam kampung lainnya. Untuk jenis ayam kampung, sebagian besar masyarakat belum memiliki kriteria khusus dan nilai ekonomi karena biasannya sangat ditentukan oleh penampilan per individu. 
   Hal ini sangat berbeda dengan ayam ras pedaging (broiler) yang acuan harganya telah berstandar berdasarkan berat badan. Untuk tujuan ayam pedaging, masyarakat mulai menggunakan beberapa acuan, yaitu sebagai berikut:
a) Pengamatan bagian dada dan paha.
Untuk menggantikan penimbangan berat badan, biasanya konsumen meraba ketebalan otot dada dan paha ayam. ALPU memiliki ketebalan otot dada dan paha yang lebih besar dibandingkan ayam kampung umumnya.
b) Warna kaki
Sebagian besar konsumen penggemar ayam kampung pedaging lebih menyukai warna kaki kuning dibandingkan warna lainnya, seperti cokelat, pucat, kehitaman, dan hitam. Seluruh ALPU, baik tipe medium maupun tipe berat, memiliki warna kaki kuning cerah dan bersih.
c) Warna bulu
ALPU  memiliki warna bulu dominan lebih spesifik. Warna merah kehitaman dan warna hitam untuk tipe berat, sedangkan warna cokelat dan abu untuk tipe medium. Warna bulu tersebut disenangi konsumen dibandingkan warna yang terlalu bervariasi atau warna putih.

4. Presentase karkas

Perbedaan paling signifikan antara ayam kampung umumnya dengan ALPU terlihat pada kemampuannya menghasilkan daging, terutama pada organ tubuh bagian dada dan bagian paha. Seperti layaknya ayam pedaging unggul lainnya, perkembangan kedua jenis tipe otot tersebut menunjukan bahwa ALPU memiliki kesamaan sifat dengan jenis ayam pedaging lainnya.

Kamis, 14 Desember 2017

JENIS-JENIS KANDANG UNTUK AYAM BURAS PEDAGING


        Secara genetis ayam buras bertubuh kecil, pertumbuhanya lambat, dan memiliki daya konversi pakan menjadi daging (protein) lebih rendah daripada ayam ras. Sementara itu, usaha pemeliharaan ayam buras secara tradisional yang masih dilakukan oleh masyarakat dimana ayam masih diumbar dan kandang dibuat seadanya dapat menyebabkan pertumbuhan ayam semakin menurun dan kesehatanya pun sulit untuk dikontrol. Padahal dengan memelihara secara intensif didalam kandang dengan manajemen pemeliharaan yang baik, produktivitas ayam buras sebagai pedaging dapat ditingkatkan/dapat meningkat.
Untuk menunjang peningkatan produktivitas ayam buras sebagai pedaging, diperlukan kandang yang memadai serta pemeliharaan yang insentif. Kandang sebagai  tempat tinggal ayam dan proses produksi peternakan harus memiliki kontruksi yang baik. Kontruksi yang baik harus memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Melindungi hewan ternak dari hewan pemangsa
2. Melindungi hewan ternak dari cuaca buruk, seperti sinar matahari, hujan, udara malam yang dingin, serta angin kencang
3. Menghindari pencurian hewan ternak oleh manusia
4. Mencegah hilangnya hewan ternak akibat diumbar bebas
5. Memudahkan pemeliharaan, seperti pemberian pakan dan minum, pengawasan kesehatan hewan ternak, serta pemungutan hasil.

JENIS-JENIS KANDANG

Kandang sangat berpengaruh besar dalam penanganan dan kesehatan hewan ternak seperti ayam. Jika bentuk kandang tidak sesuai dengan jumlah ayam maka penanganan akan menjadi sulit dan kesehatan ayampun menjadi tidak terkontrol. Dalam beternak ayam dikenal beberapa jenis kandang, diantaranya sebagai berikut:

1. Kandang Postal (litter)

Kandang Postal merupakan kandang tanpa halaman umbaran sehingga sepanjang hari ayam berada didalam kandang. Lantai kandang diberi alas sekam padi (sekam padi). Kelebihan sistem postal dengan alas litter adalah:


  • Menghemat biaya karena hemat lahan/tempat dan tidak perlu pagar pembatas halaman umbaran
  • Menghemat tenaga untuk perawatan kandang
  • Ayam lebih produktif karena tidak banyak bergerak sehingga energi hasil metabolisme lebih banyak digunakan untuk pembentukan karkas.
  • Karkas yang dihasilkan berkualitas baik


Menurut seorang ahli, bobot ayam buras yang dipelihara menggunakan kandang postal dengan teknologi litter selama pemeliharaan empat bulan adalah 1,64kg. Pemberian pakan berkaitan dengan pertambahan bobot ayam. Pakan sebanyak 3kg menghasilkan bobot ayam sebanyak 1kg. Sementara itu, di kandang kotak dengan halaman umbaran membutuhkan 3,3kg pakan untuk menghasilkan 1kg bobot ayam.
Disamping itu, beberapa kelemahan dari kandang postal diantaranya sebagai berikut:

  • Jika ada ayam terserang penyakit, maka penularanya akan cepat terhadap ayam lain
  • Ayam sering mematuk ayam lain, sehingga menimbulkan luka dan mudah terinfeksi
  • Jika litter (sekam padi) lembab, maka bibit penyakit seperti cacing dan coccidia mudah muncul
  • Identifikasi penyakit melalui kotoran sulit dilakukan. Hal tersebut disebabkan kotoran telah bercampur dengan litter maupun kotoran ayam yang lain
  • Ayam sering berebut makanan sehingga yang lemah sering tidak mendapatkan makanan yang cukup sehingga pertumbuhan ayam menjadi tidak sama


Contoh Kandang Postal
Dindingnya dibuat dari kawat supaya banyak sinar matahari masuk













Lantai Kandang Postal
Diberi alas sekam padi (litter) dan volume kandang yang luas

Contoh Kandang Postal
Kandang dengan halaman umbaran luas dan lantai kandang yang diberi alas sekam padi (litter)















2. Kandang Cage

Kandang tipe cage merupakan kandang postal dengan lantai berlubang. Lantai kandang berupa jeruji bambu atau kawat ram membuat kotoran akan langsung jatuh ke tempat penampungan kotoran.
Kandang tipe cage kurang baik untuk pemeliharaan ayam buras pedaging. Ayam yang dipelihara dikandang tipe ini dapat menyebabkan kualitas karkas (daging) yang dihasilkan rendah. Pada umumnya, ayam akan menderita penyakit lepuh dada atau pembengkakan tulang dada (breast blister) jika menggunakan kandang tipe ini.

Contoh Kandang Cage
Kotoran ayam akan angsung jatuh ke penampungan kotoran/kolam















3. Kandang Ren

Kandang ren adalah kandang dengan umbaran terbatas yang terdiri atas dua bagian, yaitu bangunan yang beratap dan halaman umbaran yang tidak beratap. Luas bangunan kandang yang beratap lebih kecil dibandingkan luas halaman umbaran. Lantai kandang disemen dan diberi alas berupa sekam padi. Lantai halaman umbaran juga dapat disemen atau cukup didapatkan tanpa diberi alas. Kelebihan kandang ini adalah sebagai berikut:
Sinar matahari pagi banyak yang masuk kandang sehingga dapat mencegah timbulnya penyakit rakitis pada ayam

  • Ayam dapat leluasa bergerak
  • Sirkulasi udara lancar dan kandang lebih mudah dibersihkan
  • Kualitas daging lebih baik (tidak lembek)
  • Ayam terhindar dari lepuh dada. Hal itu disebabkan ayam mendapatkan sinar matahari pagi yang cukup

Disamping kelebihan kandang ren, terdapat kelemahan-kelemahan kandang ren sebagai berikut:

  • Jika ada ayam yang terserang penyakit menular maka akan cepat menyebar/menular
  • Mudah terjadi perebutan makanan sehingga ayam yang lemah sering tidak mendapat makanan yang mencukupi kebutuhanya sehingga pertumbuhan menjadi tidak sama
  • Penggunaan tempat lebih luas sehingga kurang ekonomis
  • Identifikasi terhadap hewan ternak yang sakit sulit dilakukan. Hal tersebut disebabkan identifikasi melalui kotoran ayam sakit sudah berbaur dengan kotoran ayam yang sehat.


Contoh Kandang Ren Pagar Bambu
Pagar terbuat dari bambu dengan kandang sebelah kiri beratap dan kandang sebelah kanan halaman umbaran










Contoh Kandang Ren Pagar Besi 
Pagar terbuat dari kawat dengan kandang sebelah kiri beratap dan kandang sebelah kanan halaman umbaran











4. Kandang Baterai

Kandang tipe baterai merupakan kandang yang berbentuk sangkar atau empat persegi panjang yang disusun secara berdebat memanjang dan bertingkat dua atau lebih. Setiap sangkar hanya untuk satu ekor ayam. Kandang ini dipandang kurang menguntungkan untuk pemeliharaan ayam buras pedaging karena sering menimbulkan lepuh dada atau pembengkaan pada tulang dada. Keuntungan menggunakan sistem kandang baterai adalah sebagai berikut:

  • Menghemat tempat dan biaya pemeliharaan
  • Energi yang dikeluarkan oleh ayam sangat sedikit sehingga hasil metabolisme ternak lebih banyak untuk pembentukan daging
  • Ayam tidak saling mematuk satu sama lain, sehingga meminimalisir timbulnya luka
  • Bila terdapat ayam yang menderita penyakit menular maka penularanya lambat
  • Pemberian pakan dan minum lebih efektif karena pembeianya dapat dilakukan per ekor ayam
  • Identifikasi penyakit melalui kotoran mudah dilakukan karena kotoranya tidak bercampur dengan kotoran ayam yang lain.

   
Beberapa kelemahan-kelemahan jika menggunakan kandang baterai, sebagai berikut:

  • Biaya pembuatan kandang tergolong mahal
  • Pembuangan kotoran harus lebih sering dilakukan karena jika terlambat, dapat mengundang lalat dan bibit penyakit
  • Hewan ternak kurang mendapat sinar matahari pagi sehinggadapat menimbulkan penyakit lepuh dada
  • Kualitas daging kurang baik

Contoh Kandang Baterai
Kandang terbuat dari bambu, berbentuk sangkat atau persegi panjang. Disusun berderet memanjang dan bertingkat














Kesimpulan : Kandang yang baik untuk hewan ternak seperti ayam adalah Kandang postal (litter). Karena kandang postal dapat menghemat biaya pembuatan kandang serta muat banyak hewan ternak, serta pergerakan ayam dapat secara bebas dan dengan halaman yang luas.


Kami Sahabat Sedjati Farm menyediakan DOC Ayam Kampung Super.
Alamat kami berada di Suro RT 02 / RW 08 Tambak, Mojosongo, Boyolali
Atau dapat menghubungi nomer kami :
TELKOMSEL 081 327 709 303
INDOSAT 085 743 686 969
PIN BBM : DOCJOPER



  1. PROSEDUR PEMESANAN DOC AYAM KAMPUNG SUPER (JOPER)
  2. JADWAL DAN STOK DOC AYAM KAMPUNG SUPER (JOPER)
  3. JASA PENETASAN AYAM KAMPUNG JAWA SUPER (JOPER)




-SALAM SUKSES PETERNAK INDONESIA-
SAHABAT SEDJATI FARM