Jumat, 24 Oktober 2014

RUTINITAS KEGIATAN SAHABAT SEDJATI FARM (CANDLING). JUMAT, 24 OKTOBER 2014

Rutinitas Kegiatan Sahabat Sedjati Farm
Jumat, 24 Oktober 2014

Klik disini untuk melihat Jadwal dan Stok
Klik disini untuk mengetahui informasi Pemesanan Produk
Klik disini untuk mengetahui Cara Pembayaran




Mari bergabung dengan SAHABAT SEDJATI FARM untuk mengetahui semua informasi dan perkembangan terbaru ayam kampung dan ayam kampung super.

Kamis, 23 Oktober 2014

HASIL PRODUKSI DOC AYAM KAMPUNG SUPER SAHABAT SEDJATI FARM KAMIS, 23 OKTOBER 2014

Hasil Produksi DOC Ayam Kampung Super Sahabat Sedjati Farm
Kamis, 23 Oktober 2014

Klik disini untuk melihat Jadwal dan Stok
Klik disini untuk mengetahui informasi Pemesanan Produk
Klik disini untuk mengetahui Cara Pembayaran


Mari bergabung dengan SAHABAT SEDJATI FARM untuk mengetahui semua informasi dan perkembangan terbaru ayam kampung dan ayam kampung super.


Rabu, 22 Oktober 2014

AMONIAK, GAS BERBAHAYA BAGI KELANGSUNGAN TERNAK AYAM KAMPUNG SUPER DAN BROILER. RABU, 22 OKTOBER 2014



Amoniak, Gas Berbahaya Bagi Kelangsungan Ternak Ayam Kampung Super dan Broiler
(By: Sahabat Sedjati Farm)



 Amoniak adalah gas yang tidak berwarna dengan titik didih -33,50C. Cairannya mempunyai panas penguapan yang bebas yaitu 1,37 kJ/g pada titik didihya dan dapat ditangani dengan peralatan laboratorium yang biasa (Cotton dan Wilkinson, 1989). Gas Amoniak merupakan salah satu gas pencemar udara yang dihasilkan dari penguraian senyawa organik oleh mikroorganisme seperti dalam proses pembuatan kompos,  dalam industri peternakan, dan pengolahan sampah kota. Amoniak juga dapat berasal dari sumber antrophonik (akibat aktivitas manusia) seperti industri pupuk urea, industri asam nitrat dan dari kilang minyak (Dwipayani, 2001).
      Salah satu masalah yang biasa muncul di peternakan ayam adalah masalah bau kandang. Bau yang menyengat terkadang menjadi penyebab munculnya komplain dari masyarakat (jika lokasi kandang dekat dengan pemukiman). Belum lagi adanya dampak serius terhadap kesehatan dan produktivitas ternak maupun para pekerja kandang. Semua kondisi tersebut berkaitan dengan ketersediaan udara bersih di dalam kandang. Jika kuantitas dan kualitas udara buruk, maka ayam sudah pasti akan bermasalah.
Kandang yang berbau menyengat biasanya disebabkan oleh kandungan amonia yang tinggi. Secara singkat Amonia adalah gas yang dihasilkan dari proses perombakkan sisa-sisa nitrogen yang terdapat dalam feses oleh bakteri ureolitik. Amonia sendiri di lingkungan terdapat dalam 2 bentuk, yaitu bentuk terikat atau terlarut dalam cairan feses (NH4OH) dan bentuk gas (NH3). Gas ini mudah larut dalam air sehingga bisa tersimpan dalam air. Karena itu persoalan amonia tidak selalu berhubungan dengan pemeliharaan ternak tetapi juga di akuakultur.
Produksi amonia dalam kandang ternak adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Amonia dalam konsentrasi kecil hanya akan berdampak pada bau yang tidak sedap. Dalam konsentrasi besar, amonia menyebabkan persoalan pernapasan dan iritasi. Rekomendasi umum mengenai kandungan amonia dalam kandang sekitar 25 ppm. Rekomendasi ilmuwan Eropa bahkan jauh lebih kecil yakni 10 ppm.
Indonesia yang beriklim tropis dengan sistem dan tatalaksana pemeliharaan yang belum sepenuhnya benar, maka hampir bisa dipastikan kadar gas amonia yang dihasilkan sangatlah tinggi. Keadaan ini belum disadari sepenuhnya, apalagi dampak dari tingginya gas amonia tersebut. Sebagai contoh nyata adalah masih banyaknya farm yang jarak antar kandangnya hanya berkisar 5 meter saja, sehingga aliran udara tidak lancar yang berakibat tertimbunnya gas amonia di dalam kandang.
Begitu juga dengan kotoran ayam (layer) yang kadang menumpuk sampai berbulan-bulan, padahal alas kandangnya sangat rendah dan lembab. Belum lagi jika kepadatan ayam melebihi ukuran standar, sehingga litter menjadi cepat basah dan akhirnya gas amonia menumpuk dalam kandang ayam tersebut.
·       Efek tingginya amonia
Gas amonia mempunyai daya iritasi yang tinggi, terutama pada mukosa membran pada mata dan saluran pernapasan ayam. Terlebih lagi jarak antara saluran pernapasan ayam dengan feses, sebagai sumber amonia begitu dekat (< 20 cm). Tingkat kerusakan akibat amonia sangat dipengaruhi oleh konsentrasi gas ini.
Di dalam kandang ayam, konsentrasi amonia cukup bervariasi antara 5-90 ppm. Sedangkan rekomendasi umum untuk kandungan amonia yang aman dan belum menimbulkan gangguan pada ayam ialah di bawah 20 ppm (Ritz et al., 2004). Di luar ambang batas aman ini, amonia akan menimbulkan kerugian pada ayam, baik berupa kerusakan membran mata dan pernapasan sampai hambatan pertumbuhan dan penurunan produksi telur .
Amonia dengan kadar tinggi secara tidak langsung juga bisa memicu kasus infeksi penyakit saluran pernapasan seperti CRD, korisa, ND, AI, IB dan ILT. Hal ini tidak lain disebabkan adanya kerusakan membran saluran pernapasan yang merupakan gerbang pertahanan terhadap infeksi bibit penyakit.
Efek lainnya ialah timbul gangguan pembentukan kekebalan tubuh, baik yang bersifat lokal maupun humoral. Produksi kekebalan lokal (IgA) yang terdapat dalam saluran pernapasan atas akan mengalami gangguan akibat rusaknya sel-sel epitel oleh iritasi amonia. Sedangkan kadar amonia yang tinggi dalam darah (akibat terhisap dalam jumlah besar) menyebabkan stres pada sel-sel limfosit sehingga produksi antibodi (IgG dan IgM) juga mengalami gangguan (North, 1984).
·       Deteksi amonia
Berdasarkan pengalaman di lapangan, kandang postal dengan litter memiliki potensi gangguan amonia lebih besar dibanding kandang slat/panggung. Sebab, amonia memiliki massa jenis lebih tinggi daripada udara. Akibatnya, pada kandang litter, ayam akan langsung menghirup amonia terus menerus.
Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk mendeteksi kadar amonia di kandang, di antaranya dengan memakai alat indikator amonia. Poin terpenting ketika menggunakan alat tersebut ialah meletakkannya pada ketinggian yang tepat, misalnya saja ± 10 cm dari lantai atau setara dengan tinggi kepala ayam. 
   Jika terlalu dekat ke lantai, maka amonia yang terukur akan terlalu pekat. Sedangkan jika terlalu tinggi, amonia yang terukur terlalu kecil karena amonia cenderung sudah terbawa angin/udara sekitar. Oleh karena itu, cara termudah yang bisa diaplikasikan oleh peternak untuk mengetahui kadar amonia di dalam kandang adalah dengan indera penciuman. Bila kita masuk ke kandang dan bau kotoran sudah mulai menyengat, maka kadar amonia sudah bisa dikatakan berlebihan.
·      Faktor penyebab kondisi hipoksia (Penurunan Kadar Oksigen) dalam kandang
Kondisi hipoksia merupakan suatu keadaan kekurangan oksigen yang dapat dipicu oleh penurunan kadar oksigen, hal ini bisa juga tercipta dalam kandang disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas sumber iritasi seperti amonia, CO2 dan H2S. Amonia misalnya, akan mudah sekali meningkat saat kondisi feses dan litter basah atau lembab. Kondisi ini bisa saja dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya:
1. Feses yang dikeluarkan ayam basah
Poin awal permasalahan peningkatan kadar amonia ialah feses yang dikeluarkan ayam dalam kondisi basah. Feses basah bisa disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya infeksi saluran pencernaan, baik karena necrotic entritis, koksidiosis, colibacillosis maupun jamur, sehingga pencernaan dan penyerapan ransum menjadi terganggu. Feses pun menjadi basah.
Selain karena infeksi bibit penyakit, kandungan garam dan protein kasar yang terlalu tinggi dalam ransum juga dapat menyebabkan feses menjadi basah (diare). Kondisi tersebut akan mengganggu kerja ginjal dalam membuang asam urat, sehingga feses menjadi lebih basah dan kandungan asam uratnya (“bahan baku” amonia, red) semakin tinggi.
2. Manajemen litter yang kurang optimal
Salah satu fungsi litter yaitu membantu penyerapan air yang ada pada feses sehingga lebih cepat kering. Jika kualitas dan kuantitas litter kurang baik maka feses akan menjadi basah. Kondisi ini tentu saja akan mendukung terbentuknya amonia. Manajemen litter yang kurang baik, seperti tidak ada pembolakbalikan litter dan adanya tumpahan air minum juga akan mengakibatkan hal ini.
3. Kandang terlalu padat
Semakin tinggi kepadatan ayam, feses yang menumpuk per m2 luasan kandang semakin banyak dan daya serap litter menjadi terbatas. Akibatnya kadar amonia menjadi lebih tinggi.
4. Sistem sirkulasi udara yang terhambat
Sirkulasi udara yang terganggu karena jarak kandang yang terlalu dekat, kandang terlalu dekat dengan tebing atau terlalu banyak pepohonan, akan mengakibatkan pembuangan gas-gas berbahaya menjadi terhambat. Selain itu bisa menghambat pengeringan feses oleh aliran angin. Akibatnya kadar gas seperti amonia, CO2 dan H2S akan lebih cepat meningkat.

SOLUSI
Cara Menciptakan Udara Bersih
Setelah kita bisa mengetahui dan menganalisis penyebab meningkatnya kadar amonia dan gas berbahaya lainnya dalam kandang, maka langkah selanjutnya ialah mencari solusi untuk mengatasi faktor penyebab tersebut, yaitu:
·           Atasi kasus infeksi penyebab feses basah/diare
Ketika terjadi kasus infeksi penyakit bakterial yang menyerang saluran pencernaan, segera lakukan tindakan pengobatan agar kejadian feses basah/diare bisa dihentikan. Obat harus diberikan dalam 2 x pemberian, yaitu pukul 06:00 – 12:00 dan 12:00 – 18:00. Sedangkan malam hari diberikan air minum plus vitamin atau air minum biasa. Keberhasilan pengobatan ini juga sangat dipengaruhi oleh ketepatan diagnosa. Jika perlu lakukan uji laboratorium untuk memastikan diagnosa.
·           Cek dan perbaiki kualitas nutrisi ransum
Terkait kasus feses basah yang disebabkan oleh kualitas nutrisi ransum, sebaiknya periksa kadar protein kasar dan garam di Laboratorium. Sesuaikan kadar protein kasar dan garam dengan kebutuhan ayam. Selain itu, pastikan asupan ransumnya juga sesuai dengan standar kualitas ransum. Bisa saja kualitas ransum ayam sudah sesuai namun karena feed intake yang berlebihan menyebabkan kadar protein dan garam terlalu berlebih.
·           Manajemen litter yang baik
Pada kesempatan ini saya ingin khusus membahas teknik pemberian litter pada kandang ayam. Terutama menyangkut jenis, ketebalan dan masa pemasangan, banyak sekali jenis bahan dapat dijadikan sebagai litter yang baik, beberapa diantaranya; serbuk gergaji, sekam, dan jerami. Dari ketiga bahan saya paling menganjurkan pemakaian serbuk gergaji.
Serbuk gergaji sangat cocok dijadikan sebagai litter kandang ternak ayam broiler, karena daya serapnya tinggi dan strukturnya yang halus dan padat. Harga serbuk gergaji memang lebih mahal sedikit daripada sekam dan jerami, tapi tahukah anda bahwa kualitas budidaya ayam  ini sangat bergantung pada teknik penggunaan litter? 
Jerami dan sekam padi memang lebih murah, tapi daya serapnya terhadap air sangat buruk bila dibandingkan dengan serbuk gergaji. Pada selaput kaki ayam sangat banyak terdapat saraf dan pembuluh darang untuk pertumbuhan, jika anak ayam sering berada di litter yang basah bisa dipastikan pertumbuhan akan lambat dan mudah terserang penyakit ngorok. Oleh karena itu lebih baik menggunakan serbuk gergaji sebagai litter kandang ternak broiler.
Litter digunakan pada kandang ayam dari DOC hingga umur 2 minggu. Ketebalan litter yang baik adalah minimal 10 cm dari lantai kandang panggung (baterai). Serbuk gergaji tersebut dibolak-balik minimal 3 kali seminggu, jika struktur litter sudah padat (menyatu) maka segera ganti dengan serbuk gergaji baru. Bekas litter kandang ternak ayam dapat dijual sebagai pupuk kompos.
Manajemen litter ini dimulai dari pemilihan bahan litter yang berkualitas (kering, tidak berdebu, mampu menyerap air secara optimal) dalam jumlah yang cukup (tidak terlalu tipis). Pada 3 hari setelah chicks in lakukan pembolak-balikan litter secara teratur setiap 3-4 hari sekali. Selain itu, perbaiki atap yang bocor dan alas slat yang rusak, serta hati-hati membawa tempat minum ayam saat dilakukan penggantian air minum agar litter tidak terkena banyak tumpahan air yang mengakibatkan litter cepat basah.
Jika litter basah dan menggumpal dalam jumlah sedikit, terutama di sekitar tempat makan, tempat minum dan di depan pintu segera ambil dan ganti dengan yang baru. Namun jika jumlah litter yang menggumpal banyak, alangkah lebih baik jika ditambahkan litter baru.
·           Atur kepadatan Ayam dalam kandang
Kepadatan kandang ideal per 1 m2 untuk ayam pedaging dewasa ialah 6-8 ekor dan ayam petelur 8-10 ekor. Saat awal (masa brooding) lakukan pelebaran sekat kandang secara teratur sesuai pertumbuhan ayam sampai seluruh kandang ditempati.
·           Pengaturan sirkulasi udara
Konsentrasi amonia dalam kandang berhubungan dengan banyaknya konsentrasi nitrogen dalam kotoran, pH,dan sistem ventilasi. Hal ini dilakukan dengan memperhatikan manajemen buka tutup tirai sesuai dengan arah datangnya angin serta menambahkan blower atau fan (kipas). Yang perlu diperhatikan ialah angin jangan mengenai tubuh ayam langsung dan kecepatannya sebaiknya tidak lebih dari 2,5 – 3 m/detik untuk ayam dewasa atau < 0,3 – 0,6 m/detik. Pembukaan tirai kandang juga sebaiknya dimulai dari atas ke bawah agar anak ayam tidak langsung terkena aliran angin.
Mengontrol Amonia
Fokus berbicara mengenai amonia, peternak sudah sering menghadapi masalah pelik terkait bau amonia yang sangat menyengat di kandangnya. Mengingat bahaya yang ditimbulkan amonia sangat besar, khususnya bagi usaha peternakan di Indonesia dengan iklim tropis dan tata laksana pemeliharaannya, maka diperlukan tindakan yang terencana dan tepat guna untuk penanggulangannya.
Selain melalui proses perbaikan manajemen kotoran ternak dan perbaikan ventilasi, upaya penambahan imbuhan pakan ke dalam pakan dan perlakuan pada feses sudah banyak dilakukan oleh peternak. Beberapa diantaranya menurunkan pH feses yang ada dalam kandang, penggunaan urease inhibitor dan penggunaan penyerap amoniak (ammonia absorbent).
Penurunan pH dimaksudkan karena produksi amonia akan maksimal pada pH tinggi (basa). Menurunkan pH sampai ke pH 5 dapat menekan produksi amonia. Penggunaan urease inhibitor dimaksudkan agar supaya enzim urease tidak dapat merombak urea menjadi amoniak.
Dalam skala industri, penggunaan penyerap amonia banyak digunakan, biasanya dari golongan zeolit. Efektivitas zeolite dalam menekan produksi amonia cukup baik. Akan tetapi, pemberian zeolit ke dalam pakan dapat menekan performa ternak. Saat ini, penggunaan ekstrak tanaman Yucca Schidigera sebagai penyerap amonia banyak dipraktikkan. Hal ini karena kemampuannya menyerap amonia yang baik dan tidak berdampak negatif terhadap produksi ternak.
Alltech Inc. Amerika Serikat, memproduksi sebuah produk dengan nama De-Odorase yang juga diekstrak dari tanaman Yucca schidigera. Produk ini dapat digunakan untuk mengurangi bau amonia karena kemampuannya mengikat amoniak dan hidrogen sulfida. Penggunaan produk ini berkisar 500 gram sampai 1 kg per ton pakan.
Pada ternak, produk ini dapat dicampurkan ke dalam pakan dan produk ini tidak tercerna dalam saluran pencernaan.  Kelebihan utama antara produk pengikat amoniak dari Alltech dengan yang lain adalah spesifikasi dan efikasinya, termasuk proses pembuatan dari mulai pemilihan bahan baku sampai dengan produk jadi. Ekstrak tanaman Yucca schidigera yang terkandung dalam produk De-odorase mempunyai asal usul yang dapat ditelusuri (traceability) mulai dari penanaman sampai menjadi produk akhir (from seed to feed).
Jika konsentrasi amonia sudah sangat tinggi dan baunya sudah sangat menyengat, maka peternak harus segera mengambil tindakan untuk menguranginya. Selain dengan mengatur sirkulasi udara dan memperbaiki manajemen pemeliharaan ayam, peternak juga bisa menggunakan zat kimia misalnya Ammotrol atau produk tertentu yang lain yang mampu bekerja mengikat amonia. Oleh karena di dalam Ammotrol terkandung glycocomponent yang dapat mengikat amonia, baik yang diproduksi di dalam saluran pencernaan maupun amonia yang berasal dari feses, sehingga mencegah pelepasan gas beracun tersebut ke udara bebas. Dari trial Research and Development (R&D) Medion, telah terbukti bahwa Ammotrol efektif menurunkan kadar amonia dalam kandang. 
Dari seluruh bahasan di atas bisa disimpulkan bahwa Upaya pengelolaan bau kotoran ayam terutama oleh gas amonia perlu dilakukan untuk mencegah gangguan kesehatan manusia dan ternak. Penggunaan kapur 1‑3 % dan probiotik starbio 0,025 ‑ 0,05 % nampaknya merupakan pilihan yang cukup baik dibandingkan dengan zeolit dan EM4R.  
Pemantauan lingkungan sekitar haruslah selalu dilaksanakan dengan mengikutsertakan masyarakat disekitar usaha peternakan. Kualitas udara sangat mempengaruhi kenyamanan hidup ayam di dalam kandang. Jika kualitas udara baik, maka ayam pun bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik. Demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, peternak wajib mengurangi konsentrasi gas yang mampu menurunkan kualitas ternaknya tersebut.



DAFTAR PUSTAKA

Cotton, F.A & Wilkinson. 1989. Kimia Organik Dasar. Cetakan Pertama. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
Dwipayani ,N.M.U. 2001. Studi Penyisihan Gas Amonia (NH3) Menggunakan Teknik Biofiltrasi di Bawah Kondisi Anaerob.Bandung : Fakultas Teknik Lingkungan.
http://trik-Menguntungkan-ternak-unggas.blogspot.com/2013/11/mengatasi-bau-kotoran-dan-gas-berbahaya.html. Diakses tanggal 20 Oktober 2014
http://proteksilingkungan.blogspot.com/2011/01/upaya-pengelolaan-bau-yang-dikeluarkan. html. Diakses tanggal 20 Oktober 2014
http://yudisuper.blogspot.com/2011/04/diperkirakan-80-dari-lapisan-lantai-itu.html. Diakses tanggal 22 Oktober 2014
Info Medion Edisi Juni 2013, http://info.medion.co.id/index.php/artikel/broiler/tata-laksana/gas-berbahaya-dalam-kandang. Diakses tanggal 20 Oktober 2014
Majalah Trobos edisi Juni 2009, http://www.trobos.com/show_article.php?rid= 11&aid=3628. Diakses tanggal 20 Oktober 2014
Peternakan Blog. http://kesehatan-ternak.blogspot.com/2014/03/litter-yang-baik-untuk-ternak ayam.html. Diakses tanggal 22 Oktober 2014
Widyastuti, palupi.2006. Bahaya Bahan Kimia pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan.Jakarta: Buku Kedokteran EGC