Jumat, 02 Februari 2018

WASPADA FLU BURUNG DAPAT MENYERANG HEWAN UNGGAS


Avian Influenza (AI), merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang berdampak besar terhadap penurunan produktivitas unggas. Hal ini mengakibatkan banyak kerugian bagi peternak. Selain menimbulkan kematian, AI juga membawa resiko bagi ayam yang tersisa yang masih hidup. Ayam-ayam tersebut memiliki daya tahan tubuh yang relatif lebih rendah sehingga lebih mudah terserang penyakit lain. Dampak lainnya adalah penurunan laju pertumbuhan dan produksi telur pada ayam komersil.
      
       Pada bibit ayam, selain penurunan produksi telur, serangan AI juga berimbas pada kemampuan menetas atau hatchability. Final stock atau anak ayam yang dihasilkan oleh induk yang terserang AI kualitasnya tidak sebaik yang berasal dari induk yang sehat. Tanda-tanda klinis yang diakibatkan oleh AI lebih terlihat pada ayam petelur. Sedangkan pada unggas jenis lain tidak selalu tampak karena kematian yang mendadak seperti yang terjadi pada ayam kampung. Bila terlihat tanda-tanda klinis seringkali sulit dibedakan antara AI dengan penyakit yang lain. 
Bagaimana dengan ayam broiler? Meskipun hanya dipelihara selama 1 bulan, namun sebagaimana halnya jenis unggas lainnya, broiler pun tidak luput dari ancaman serangan AI. Anak ayam "mewarisi" kekebalan dari induknya, termasuk untuk melawan serangan AI. Akan tetapi daya lindungnya terbatas. Pada awal hidupnya, anak ayam masih aman karena tingginya kekebalan asal induk tersebut. Ketika sudah melewati usia tiga minggu resiko ayam terserang AI lebih besar karena kekebalan asal induk sudah menurun kadarnya. 
       Serangan AI pada broiler sudah diketahui sejak beberapa tahun lalu. Penularan pada kelompok ayam ini diduga akibat lemahnya praktek biosecurity. Penularan banyak disebabkan oleh mobil pengangkut ayam panen yang melintas di jalan atau bahkan masuk kawasan peternakan sehingga menjadi sumber penular. Tanda-tanda serangan AI pada broiler antara lain tampak lesu, pial berwarna keunguan (cyanosis) dan kemerahan pada bagian kaki yang tidak berbulu. Apabila dilakukan bedah bangkai atau nekropsi, jaringan di bawah kulit tampak kemerahan. Perdarahan dapat ditemukan pada semua organ tubuh seperti hati, jantung, lambung kelenjar (proventriculus), ginjal maupun saluran pencernaan (usus) dan penggantungnya. Bursa Fabrisius kadang-kadang terlihat membengkak. 
Tidak semua perubahan pada organ dalam tubuh broiler tersebut dapat ditemukan bersama-sama, melainkan hanya sebagian saja. Beberapa patologi anatomi tersebut dapat dikelirukan dengan penyakit lain, misalnya ND dan Gumboro. Dengan lama pemeliharaan broiler yang berlangsung singkat, kurang lebih hanya 35 hari, seringkali vaksinasi tidak menjadi prioritas terhadap pengendalian AI pada ayam broiler. Vaksin AI hanya tersedia dalam bentuk inaktif. Untuk menstimulasi kekebalan hingga mencapai puncaknya memerlukan waktu paling tidak 4 minggu setelah ayam divaksin atau pada saat usia panen. Hal inilah yang membuat peternak ayam broiler "enggan" melakukan vaksinasi AI. 
      
Akan tetapi bila dilihat dari resiko yang diakibatkan oleh penyakit AI pada ayam broiler, pemberian vaksin AI sebaiknya tetap dipertimbangkan. Hanya saja vaksin yang dipilih haruslah vaksin yang cepat merangsang terbentuknya kekebalan yang tinggi dan mampu memberikan perlindungan optimal seperti CAPRIVAC AI-K® yang akan menjadi solusi bagi peternak broiler yang ingin mengamankan farm-nya dari serangan flu burung. Bagi peternak yang memiliki program vaksinasi ND dengan vaksin inaktif (killed) dapat memilih CAPRIVAC NDAI-K®.Vaksin ini merupakan vaksin kombinasi ND dan AI inaktif dengan adjuvan yang halus dan lembut sehingga mudah dan aman bila diberikan secara injeksi di bawah kulit. 
       Vaksinasi saja masih belum cukup untuk menghindarkan penyakit AI "mampir" ke peternakan broiler. Semua aspek biosecurity harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Amankan peternakan broiler dari avian influenza. 

SIFAT VIRUS 
1. Dalam air virus tahan hidup selama 4 hari pada suhu 22oC dan 30 hari pada suhu 0oC 
2. Virus mati dengan desinfektan : ammonium kuatener, Formalin 2-5%, Iodioform kompleks iodine), senyawa fenol, natrium/ kalium hipoklorit, 
3. Di kandang ayam, virus Avian Influenza bertahan selama 2 minggu setelah depopulasi ayam 
4. Virus di feces dalam keadaan basah bertahan selama 32 hari.

GEJALA KLINIS 
1. Jengger, pial, kulit perut, yang tidak ditumbuhi bulu berwarna biru keunguan (sianosis) 
2. Kadang-kadang ada cairan dari mata dan hidung 
3. Pembengkakan di daerah bagian muka dan kepala. 
4. Pendarahan di bawah kulit (sub kutan) 
5. Pendarahan titik (plechie) pada daerah dada, kaki dan telapak kaki 
6. Batuk bersin dan ngorok 
7. Unggas mengalami diare dan kematian tinggi

CARA PENULARAN
1. Cairan/lendir yang berasal dari lubang hidung, mulut mata (cojunctiva) dan lubang anus (tinja) dan unggas yang sakit ke Iingkungan 
2. Kontak langsung dengan ayam sakit 
3. Secara tidak langsung melalui pakan/alr minum peternak, kandang dan peralatan peternakan, rak telur keranjang ayam dan alat transfortasi yang tercemar virus Avian Influenza (Flu Burung)
4. Unggas air berperan sebagai reservoir virus AI melalui virus yang ada dalam saluran intestinal dan dilepaskan melalui kotoran

LANGKAH PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN  
1. Peningkatan Biosekuriti 
a) Desinfeksi alat dan fasilitas peternakan 
b) Dilarang mengeluarkan unggas saklt kotoran dan limbah peternakan 
c) Membatasi keluar masuk orang ke dalam lokasi 
d) Mencegah keluar masuknya tikus (rodensia) dan hewan lain ke dalam lokasi petenakan. 

2. Dekontaminasi/desinfektan 
a) Pakan tempat pakan/air minum, semua peralatan 
b) Pakaian pekerja kandang, alas kaki, kendaraan dan bahan lain, yang tercecer 
c) Bangunan kandang yang kontak dengan unggas, kandang/tempat penampungan unggas 
d) Permukaan jalan menuju peternakan/ kandang tempat penampungan unggas 

3. Depopulasi/ tindakan pemusnahan Selektif/ terbatas 
Pemusnahan selektif (depopulasi) dilakukan terhadap unggas sehat yang sekandang dengan unggas sakit di peternakan tertular 
1. Disposal 
Dilakukan dengan cara pembakaran dan penguburan dengan kedalaman minimal 15 meter, terhadap : 
a) Unggas mati (bangkai), karkas telur terinfeksi 
b) Kotoran (feces), bulu, alas kandang (sekam) 
c) Pupuk dan pakan ternak yang tercemar. 
d) Bahan dan peralatan lain yang terkontaminasi yang tidak dapat dicucihamakan secara efektif 
2. Vaksinasi
Vaksinasi yang dapat dilakukan terhadap unggas yang sehat di daerah tertular sebagai berikut : 
a) Ayam pedaging (broiler) divaksinasi urnur 4-7 hari dosis 0,2 ml pemberian di bawah kulit pada pangkal leher 
b) Ayam petelur (layer) dan pembibitan (breeder) divaksin pada : 
• Umur 4 -7 hari dosis 0,2 ml pemberian di bawah kulit pada pangkal leher 
• Umur 4-7 Minggu, dosis 0.5 ml pemberian di bawah kulit pada pangkal leher 
• Umur 12 Minggu, dosis 0.5 ml pemberian di bawah kulit pada pangkal leher atau pada otot dada. 
c) Booster
Pengulangan kembali tiap 3 - 4 bulan, dengan dosis 0 5 ml pada otot dada

PENGISIAN KEMBALI (RESTOCKING) 
1. Peternak diperbolehkan untuk mengisi kandang kembali setelah 30 hari setelah pengosongan kandang 
2. Sebelumnya harus dipastikan semua tindakan dekontaminasi (desinfektan) dan disposal (pembakaran/penguburan) yang sesuai prosedur telah dilaksanakan. 



Kami Sahabat Sedjati Farm menyediakan :

1. DOC Ayam Kampung Super
2. Telur tetas Ayam Kampung Super
3. Jasa tetas telur Ayam Kampung Super

Alamat : Suro RT 02/RW 08 Tambak, Mojosongo, Boyolali, Jawa Tengah

No Telp Marketing Sahabat Sedjati Farm
TELKOMSEL : 081327709303
INDOSAT : 085743686969
PIN BBM : DOCJOPER


SALAM SUKSES PETERNAK INDONESIA
-------------------------------------SAHABAT SEDJATI FARM----------------------------------


Posting Komentar